The OIC Human Rights

Human Rights in Islamic Countries

“Islam bukan Agama Kekerasan”

Posted by Human Rights in Islamic Countries on May 15, 2012


Jakarta, 14 Mei 2012

Siti Ruhaini Dzuhayatin

Ketua at-interim Komisi Independen HAM Organisasi Kerjasama Islam (IPHRC OKI)

Beberapa waktu terakhir, dalam konteks pendewasaan menjadi bangsa yang demokratis Indonesia diuji dengan pelbagai macam peristiwa yang mengarah pada tindakan intoleransi, diskriminasi dan kekerasan. Maraknya pelarangan pendirian rumah ibadah agama tertentu, pengrusakan rumah ibadah kelompok minoritas, kekerasan terhadap aktivis penggiat keberagaman, pelarangan diskusi-diskusi tema-tema yang mengandung unsur sensitifitas dengan keyakinan, sampai tindakan kekerasan terhadap komunitas yang dipandang berbeda pemahaman dan pandangan, semuanya telah menjadi hiasan media massa dan ruang publik masyarakat Indonesia dewasa ini.

Sebagai berpenduduk Muslim terbesar yang dikenal paling demokratis, Indonesia tengah disibukkan dengan permasalahan mendasar tentang kebhinekaan dan toleransi. Sebuah perdebatan lama yang sebetulnya telah dijawab oleh bangsa ini, bahkan sebelum dilahirkan. Tak ayal pula, sikap ekstrem yang ditampakkan oleh umat Islam tersebut semakin menguatkan pandangan Islamphobia di antara umat lain, sedangkan di sisi lain, komunitas Muslim di seluruh dunia tengah memperbaiki citra Islam untuk lebih manusiawi, berperadaban dan menampilkan wajah Islam yang ramah.

Sebagai Komisioner HAM OKI yang diberikan mandat untuk menghadirkan nilai-nilai HAM yang selaras dengan ajaran luhur keislaman, kami hendak menekankan bahwa tindakan intoleransi dan kekerasan yang didasarkan atas nama agama bukanlah menjadi cerminan Islam itu sendiri. Sebaliknya, tindakan tersebut hanya bagian kecil dari pemaknaan sejumlah kecil umat Islam terhadap Islam yang tentunya tidak bisa dilegitimasi sebagai pendapat seluruh umat Islam.

Piagam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menyatakan secara tegas, bahwa bersatunya umat Islam dalam Organisasi ini adalah untuk memajukan nilai-nilai perdamaian, kasih sayang, toleransi, persamaan, keadilan dan martabat manusia. Nilai-nilai ini pula yang dapat melestarikan warisan Islam dan mempertahankan universalitas Islam sebagai agama. Hal ini menjadi dasar bagi umat Islam sedunia untuk menyebarkan pemahaman Islam yang moderat dan toleran, memajukan HAM dan kebebasan dasar, demokrasi dan penegakan hukum, serta bagi setiap Negara Muslim hendaknya mengimplementasikan dan memajukannya di tingkat nasional atau internasional.

Dalam hal ini, OKI meletakkan agenda reformasi – moderasi dan modernisasi – sebagai bagian penting pembangunan Negara-negara Muslim di era kontemporer, dengan selalu mengedepankan dialog antar peradaban dan menghadirkan nilai-nilai Islam yang luhur.

Program Aksi Sepuluh Tahun OKI (2005 – 2015) sangat tegas menyebutkan, bahwa sebagai organisasi Muslim terbesar di dunia, OKI mengedepankan sikap moderat dan toleran, seraya menentang segala bentuk ekstrimisme, tindakan kekerasan dan terorisme, sekaligus pula menolak adanya Islamphobia.

Program sepuluh tahun mendorong agar OKI menyebarkan pemahaman yang benar tentang Islam sebagai sebuah agama yang moderat dan toleran dan melindungi pemaknaan Islam dari pendapat-pendapat ekstrem dan sempit yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Dialog antar agama/keyakinan dengan pencarian titik temu dan nilai bersama merupakan sebuah keharusan. Dan demikian, OKI mengecam adanya ekstrimisme agama atau sektarian dan menghentikan tindakan saling kafir-mengkafirkan antar penganut untuk hidup secara berdampingan dan saling menghormati.

Deklarasi HAM Islam Kairo 1990 telah mencatat, bahwa setiap manusia memiliki hak rasa aman atas dirinya sendiri, agamanya, kemerdekaannya, kehormatannya dan harta bendanya (Pasal 18), yang harus pula menjadi pedoman bagi umat Islam di seluruh dunia dalam memandang manusia lain, serta menjadi kewajiban Negara pula untuk memberikan perlindungan maksimal terhadap hak setiap orang tersebut.

 

Berkaitan dengan maraknya tindakan intoleransi, kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, kami menyampaikan;

  1. Kepada seluruh umat Islam, hendaknya selalu melakukan dialog terkait suatu pandangan keagamaan, baik sesama umat Islam ataupun dengan umat yang lain. Tindakan kekerasan atau sikap intoleransi lainnya bukanlah merupakan cerminan nilai luhur Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam; sebaliknya, merusak dan memperburuk citra Islam itu sendiri.
  2. Tantangan peradaban global dewasa ini telah menuntut seluruh umat manusia yang ada di bumi untuk saling menghargai dan menghormati keyakinan, agama, dan pandangan masing-masing, sehingga peradaban kemanusiaan sejati dapat dicapai melalui kerjasama terbuka di antara para penganut agama. Saling fitnah, saling mengkafirkan dan menyesatkan, ataupun mempropagandakan untuk saling membenci adalah tindakan yang sama sekali tidak pernah dianjurkan oleh Islam, bahkan sejak kehadiran Nabi Muhammad Saw. di tanah Arab.
  3. Kepada Pemerintah Indonesia, hendaknya pula melindungi, menghormati dan memenuhi hak-hak dasar beragama dan berkeyakinan seluruh warga Negara. Citra baik Indonesia sebagai Negara berpenduduk Muslim terbesar yang paling demokratis dan toleran jangan pula sampai dirusak oleh tindakan-tindakan intoleran dan tidak demokratis yang nota bene bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
  4. Telah menjadi kewajiban Negara untuk menjamin hak asasi setiap orang di tingkat Nasional, tanpa memandang latar bekalang, baik ras, suku, agama, keyakinan, budaya, etnis dan lainnya, karena Pemerintah merupakan perpanjangan tangan dari seluruh komponen masyarakat yang berbeda-beda. Penegakan hukum secara akuntabel dan transparan terhadap siapapun yang menyalahi norma kehidupan bersama merupakan prasyarat penting bagi terwujudnya Indonesia yang lebih demokratis dan toleran.

 

*Press release Siaran Pers Komisioner HAM OKI pada 14 Mei 2012 di UIN Jakarta, diselenggarakan oleh Human Rights Working Group (HRWG), CSRC UIN Jakarta dan The Wahid Institute.  

 

 

4 Responses to ““Islam bukan Agama Kekerasan””

  1. Reblogged this on membumikantoleransi and commented:
    Sebuah sikap yang harusnya diikuti oleh seluruh umat Islam dalam memandang perbedaan dan keberagaman. Toleransi dan sikap resiprositas terhadap yang lain merupakan sebuah niscaya, ketika kita menghendaki adanya kehidupan yang damai.

  2. Saya Setuju bang,,,,😀

  3. sikap yang banyak dilakukan oleh para pecinta damai. Kalaupun masih ada friksi di kalangan umat Islam itu semata2 karena kurangnya akses dalam memperoleh pengetahuan yang holistik.

  4. Ya terbukti Islam bukan agama kekerasan, di Poso, ambon adalah bukti bahwa Umat islam umat yang tertindas …. Semoga damai adalah tujuan. keberagaman jangan membuat kita picik.dan saling menghargai adalah mutlak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: