The OIC Human Rights

Human Rights in Islamic Countries

Kemanakah Arah Perjuangan HAM OKI?

Posted by Human Rights in Islamic Countries on February 29, 2012


Perbincangan Radio KBR68H dan Tempo TV tentang OKI dan Penegakan HAM.

Bersama: Muhammad Hafiz (OIC Program Manager – HRWG) dan Lutfie Assyaukani (Director of Freedom Institute)

Host: Saidiman Ahmad dan Novri (KBR68H/Tempo TV)

KBR68H – Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah kongres pertama Komisi HAM OKI (Organisasi Kerjasama  Islam). Kongres ini merupakan lanjutan dari Deklarasi Kairo. Pembahasan Kongres ini fokus kepada pemahaman dan definisi HAM yang bakal diperjuangkan.

Sedikitnya ada 18 negara yang ikut terlibat dari 57 negara Anggota OKI. Kongres berlangsung dari 19 hingga 24 Februari 2012. Seperti apa idealnya HAM yang bakal diperjuangkan oleh OKI?  KBR68H memperbincangkannya dalam  program Agama dan Masyarakat Rabu 22 Februari 2012.

Independensi Komisi HAM OKI

Sejak diproklamirkan 1991 dengan kemunculan Deklarasi HAM dalam Islam (Deklarasi Kairo), OKI tidak menunjukkan keberadaaan yang berarti bagi negara-negara anggotanya. OKI seperti tenggelam dari isu-isu internasional. Memasuki tahun 200-an baru OKI menunjukkan taringnya, ini terlihat  pada pertemuan ke-38 di Astana Kazakhstan 2011, keluar satu rumusan pembentukan satu komisi Independen. Komisi ini dinamai Komisi Independen Permanen Hak Asasi Manusia OKI (OIC IPHRC).

Human Rights Working Group dipilih menjadi partner yang mengadvokasi Komisi ini. Menurut Manager Program HRWG Indonesia Muhammad Hafiz, komisi HAM OKI ini sangat independen, termasuk kebijakan yang diambil oleh anggota komisonernya.

“Beda ya, keanggotaan komisioner Komisi HAM OKI dengan keanggotaan pada Organisasai seperti ASEAN. Di Komisi ini, anggotanya bebas mengambil kebijakan dengan pendapat pribadi. Mereka tidak harus mempertanggungjawabkannya ke Kepala Negara masing-masing, bukan seperti anggota ASEAN, mereka masing-masing mempertanggungjawabkannya ke peada presiden/kepala negara masing-masing”, ujarnya.

Namun menurut Akademisi Paramida, Luthfi Asyaukani, OKI tidak perlu repot-repot untuk memperjuangkan HAM, kata dia semuanya telah ada dalam Al-Qur’an.

“Islam itu telah memiliki teologi yang jelas, kalau merunut pada teologi itu maka Islam itu juga mengajari tentang HAM. Bahkan Almarhum Nurkholis Madjid menyebutkan, Qur’an pun mengajarkan tentang liberal”, ungkapnya.

“Dalam teologi Islam, tidak perlu membuat deklarasi khusus tentang HAM. Karena di dalam ajaran islam sudah diatur. Jadi saya heran, kenapa harus dibuat resolusi atau organisi serupa di OKI.

Tapi satu sisi saya memahami, karena ini sebagai bentuk jawaban secara kelembagaan, dari setiap sikap negara -negara Barat. Tapi yang jelas Islam, mengajar semua tentang HAM atau Human Rights”, tambahnya.

Luthfi menyebutkan salah satu dalil-dalil yang menjelaskan ketegasan Islam menghormati keberagaman adalah kalimat “la Ikhraha Fiddiyn- Tidak ada pemaksaan dalam memeluk agama”. Tapi yang terjadi, katanya banyak pemahaman teologi yang berbeda antara ulama yang menafsirkannya. Maka menurutnya HAM itu telah diajarkan dalam Islam.

Luthfi meragukan Komisi HAM OKI bakal independen, alasannya tidak mudah memberikan pemahaman HAM kepada masing-masing negara anggota.

“Ada perbedaaan mendasar di beberapa negara anggota OKI. Perbedaaan itu terletak pada pemahaman yang disebut syariah atau hukum Di sejumlah negara ada yang memahami syariah  melalui Mazhab Hanbali, ada yang menggunakan Mazhab Syafi’i dan lain-lain. Sehingga sulit untuk menerapkan model HAM yang mana yang bakal didukung oleh OKI. Apakah HAM yang universal atau HAM yang termaktub dalam AL-Qur’an” tegasnya.

Muhammad Hafiz menyetujui ungkapan, Luthfi, kata dia, mungkin itu juga yang pada akhirnya berkembang dalam Kongres Pertama Komisi HAM  OKI ini. Kata dia, pada awalnya Kongres ini menekankan beberap aspek pembahasan, yakni terkait Perempuan dan anak, Palestina dan israel. Dan membangun demokrasi di negara-negara muslim. Namun yang terjadi  hanya membahas Sipil dan Politik.

Tapi Hafiz menyatakan, minimal kongres ini memberikan angin segar bahwa ada semacam kekuatan baru dari OKI untuk turut terlibat pada isu-isu internasional.

“Nantinya OKI bisa mengeluarkan resolusi dan  justifikasi dalam hal-hal yang berkaitan kekerasan HAM”.

Perjuangan HAM OKI dan Indonesia

Muhammad Hafiz menegaskan, apapun yang tengah berlangsung dalam kongres pertama OKI kali ini, intinya untuk memberikan pandangan pada dunia internasional, bahwa OKI tidak membenarkan pelanggaran HAM.

“Tidak ada konsesus Islam seperti apa yang membenarkan perbuataan kekerasan. Artinya ketika di Arab Saudi melanggar HAM, berarti itu tidak dianggap sebagai gambaran Islam secara umum. Orang tidak boleh mengatakan, begitulah Islam. Karena yang melakukannya adalah adalah Arab Saudinya”.

Lalu bagaimana Indonesia ? Kata Luthfi Asyaukani, Indonesia termasuk salah satu negara yang diusulan menjadi model penegakan HAM

“Ada yang mengusulkan Indoensia sebagai model negara islam yang mendukung perjuangan HAM. Alasannya, Indonesia negara yang mendukung demokrasi, ekonomi berkembang baik, meski disatu sisi masih ada beberapa permasalahan kekerasan HAM”. Ungkapnya.

Contoh lainya adalah kemampuan umat Islam di Indonesia beradaptasi dengan kehidupan Universal.

Kata dia, meski terjadi revolusi di Negara-negara Islam belakangan ini terutama di Timur Tengah, tapi itu tidak akan berpengaruh besar. Pelanggaran HAM tidak bakal terjadi meski yang muncul sebagai pemenang dalam revolusi tersebut adalah partai-partai Islam. Ia mencontohkan dengan PKS yang ada di Indonesia.

“Dulu PKS, partai Islam di awal-awal eklusif, tapi belakangan mereka mencoba untuk membaur secara unviersal dengan membuka diri dengan komunitas lainnya”tegasnya.

Meski yakin Indonesia sebagai contoh yang cocok. Namun Lutfi masih ragu

“Indonesia masih berada pada posisi yang membingungkan. Di satu sisi Indonesi seperti ikut dengan konsensus penegakkan HAM dengan konsep Universal. Tapi di sisi lainnya, karena menjadai negara dominan Muslim, Indonesia seperti enggan melepas jati diri bagian dari negara yang terikat konsesus Islam”.

Laman: http://kbr68h.com/perbincangan/agama-a-masyarakat/20128-kemanakah-arah-perjuangan-ham-oki-

6 Responses to “Kemanakah Arah Perjuangan HAM OKI?”

  1. I real equal when you address this type of nonsensicality part your posts. Perhaps could you uphold this?

  2. Hello There. I found your blog using msn. This is an extremely well written article. I’ll be sure to bookmark it and return to read more of Kemanakah Arah Perjuangan HAM OKI? oichumanrights . Thanks for the post. I will definitely return.

  3. This site is basically interesting i’m yearning for is there the other examples? but anyway thank you pretty much as a result of I found that i was yearning for.

  4. Kemanakah Arah Perjuangan HAM OKI? oichumanrights I was recommended this web site by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my problem. You’re wonderful! Thanks! your article about Kemanakah Arah Perjuangan HAM OKI? oichumanrightsBest Regards Cindy

  5. This website is basically attention-grabbing i am longing for is there the other examples? however anyway many thanks substantially as a result of I found that i was probing for.

  6. This web site is absolutely interesting i’m longing for is there the other examples? however anyway many thanks significantly as a result of I found that i used to be probing for.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: